Jumat, 03 Mei 2013

Kenapa tidak!! “Ujian Nasional’’ dihapuskan


Kenapa tidak!! “Ujian Nasional’’ dihapuskan


Ujian Nasional biasa disingkat UN / UNAS adalah sistem evaluasi standar pendidikan dasar dan menengah secara nasional dan persamaan mutu tingkat pendidikan antar daerah yang dilakukan oleh Pusat Penilaian Pendidikan, Depdiknas di Indonesia berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 menyatakan bahwa dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional dilakukan evaluasi sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Lebih lanjut dinyatakan bahwa evaluasi dilakukan oleh lembaga yang mandiri secara berkala, menyeluruh, transparan, dan sistematik untuk menilai pencapaian standar nasional pendidikan dan proses pemantauan evaluasi tersebut harus dilakukan secara berkesinambungan.
Proses pemantauan evaluasi tersebut dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan pada akhirnya akan dapat membenahi mutu pendidikan. Pembenahan mutu pendidikan dimulai dengan penentuan standar.
Penentuan standar yang terus meningkat diharapkan akan mendorong peningkatan mutu pendidikan, yang dimaksud dengan penentuan standar pendidikan adalah penentuan nilai batas (cut off score). Seseorang dikatakan sudah lulus/kompeten bila telah melewati nilai batas tersebut berupa nilai batas antara peserta didik yang sudah menguasai kompetensi tertentu dengan peserta didik yang belum menguasai kompetensi tertentu. Bila itu terjadi pada ujian nasional atau sekolah maka nilai batas berfungsi untuk memisahkan antara peserta didik yang lulus dan tidak lulus disebut batas kelulusan, kegiatan penentuan batas kelulusan disebut standard setting.
Mata pelajaran yang diujikan
Untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) ada 3 mata pelajaran yang diujikan yaitu:
1.     Bahasa Indonesia
2.     Matematika
Untuk tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) ada 4 mata pelajaran yang diujikan yaitu:
1.     Bahasa Indonesia
2.     Bahasa Inggris
3.     Matematika
4.     Ilmu Pengetahuan Alam
Untuk tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) ada 6 mata pelajaran yang diujikan, tergantung penjurusannya:
Penjurusan
Mata pelajaran
utama
Mata pelajaran
karakteristik penjurusan
IPA
Bahasa Indonesia
Bahasa Inggris
Matematika
Sastra Indonesia
Antropologi
Bahasa asing pilihan (Bahasa MandarinBahasa JepangBahasa JermanBahasa PerancisBahasa Arab)
Ilmu Tafsir, Ilmu HadistFiqih
Kejuruan
Teori Kejuruan

Setelah kita ketahui apa itu ujian nasional, mungkin pembaca sangat heran dengan judul yang penulis buat untuk lomba kali ini yaitu “kenapa tidak!! ujian nasional dihapuskan” dikarenakan saya sebagai penulis ingin mewakili teman teman yang berada di indonesia untuk menyampaikan tidak setuju dengan keberadaan UN karena ujian nasional serasa menjadi momok yang menakutkan bagi siswa.
Ujian Nasional (UN) selalu menjadi momok yang menakutkan dan menyeramkanterhadap kalangan pelajar, sehingga mereka stres dan histeris. Tidak hanya siswa saja yang mengalami stres, namun para orangtua, guru, dan kepala sekolah pun ikut stres memikirkan siswanya. Mengapa ? karena, jika siswa tidak lulus UN maka mereka tidak dapat melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Bagi siswa yang tidak lulus ujian harus mengulang sekolah melalui sistem Paket C. Bagi guru bidang studi yang mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris dan IPA, tentunya mereka akan bekerja keras untuk membantu anak didiknya agar lulus Ujian Nasional. Namun, jika anak didiknya gagal dalam mata pelajaran UN maka reputasi seorang guru jatuh dihadapan orangtua dan kepala Sekolah. Demikian pula sikap Kepsek yang menuntut para guru untuk meluluskan anak didiknya. Dengan berbagai cara dilakukan mulai dari penambahan jam belajar, bimbingan psikologis kepada siswa, hingga kecurangan pun dilakukan demi menggoalkan siswanya. Agar para siswa lulus mereka harus mencari cara atau strategi jitu dalam menghadapi UN.
Ada banyak cara yang dilakukan untuk tembus UN, diantaranya melalui Try Out, bimbel, les, gelar doa bersama, berpuasa, dan sebagainya. Bahkan hal-hal unik dan aneh pun dilakukan oleh orangtua dan anaknya, mulai dari sungkeman ke ibu, membasuh kaki orangtua terutama ibu. Hal ini marak dilakukan ketika menjelang UN, dengan harapan mendapat restu dari orangtua, agar diberi kemudahan dan kelancaran dalam menghadapi UN. Namun ada hal yang sangat menggelitik hati, belum lama ini terjadi di daerah Jatim, ada siswa yang membawa pensil ke dukun, karena takut UN. Bayangkan, hanya untuk lulus UN sampai-sampai hal yang tidak rasional pun dilakukan. Sungguh sangat dahsyat UN ini ! Belum lagi kecurangan-kecurangan yang terjadi di pihak sekolah, mulai dari pembocoran soal, memberi kunci jawaban, sampai memanipulasi nilai raport. Ironisnya, hal ini sudah menjadi rahasia umum dikalangan para guru dan kepala sekolah.
Klimaks dampak buruk UN adalah detik-detik hasil kelulusan yang mengakibatkan hal yang sangat fatal yaitu kematian. Banyak siswa yang stres karena merasa malu, tertekan, putus harapan, hingga nekat gantung diri. Naudzubillah ! Hal ini tentu sangat miris bagi kita semua, terutama bagi para praktisi dan pemerhati pendidikan. Hanya karena ingin lulus ujian, nyawa seorang siswa harus melayang.
Baiklah mari kita lihat lebih jauh, berdasarkan pakta yang berkembang di lapangan. Ternyata ujian nasional memberikan dampak negatif yang sangat buruk ketimbang manfaatnya. Alih-alih pemerintah menyelenggarakn UN dengan alasan; untuk memajukan pendidikan, agar pendidikan kita bertambah kualias, UN memudahkan pemerintah untuk mengetahui kondisi pendidikan di seluruh Tanah Air, pemerintah dapat mengetahui kelebihan dan kekurangan ditiap daerah, meningkatkan standar pendidikan di Tanah Air, mengetahui peta pendidikan di Indonesia, untuk menghasilkan keadilan dan kejujuran kepada siswa dan siswi yang mengikutinya. Namun demikian, cita-cita dan tujuan pemerintah yang murni itu menimbulkan banyak kontroversi dikalangan masyarakat.
Sejatinya, ujian nasional dapat memberikan energi positif khususnya bagi para siswa agar mereka saling berkompetisi belajar dengan cara yang sehat. Bukan menambah stres, khawatir tidak lulus, atau bahkan menjadikan siswa sebagai pecundang. Semestinya pelaksanaan UN tahun 2013 ini harus dikaji ulang lebih mendalam, apakah ujian nasional diselenggarakan lagi dengan sistem yang lebih baik atau di hapus sama sekali. Pada hakekatnya pun ujian nasional bukan satu-satunya alat penentu kelulusan siswa, namun guru yang mengajar di kelas sangat lebih tahu siswa yang layak lulus atau tidak.
Sistem UN tidak adil dikarenakan. Tiga tahun belajar hanya ditentukan selama 4 hari saja. Bisa saja terjadi kejadian apes yang menimpa siswa pintar, misalnya pas hari H pelaksanaan UN ia sedang dalam kondisi yang tidak fit dan mengurangi konsentrasi. Nilainya buruk dan akhirnya ia tidak lulus. Begitu juga bagi mereka yang beruntung, hanya menghitung kancing dan ternyata jawabannya pas maka bisa mendapatkan nilai bagus. Dua kemungkinan diatas sangat bisa terjadi dan sudah terjadi.

Biarkan pasar yang melakukan seleksi, bukan negara melalui UN. Pasar lulusan SMA adalah perguruan tinggi, biarkan mereka yang melakukan seleksi. Sekolah yang asal meluluskan siswa pasti akan mendapatkan kesulitan karena siswanya tidak akan lulus ujian masuk perguruan tinggi. Sedangkan pasar untuk SMK adalah dunia kerja, lulusan yang tidak kapabel tidak akan mendapatkan pekerjaan. Ini lebih fair karena pasar menilai berdasarkan kebutuhannya. Dengan begitu siswa tidak akan hanya mengejar nilai UN saja.

Jika UN dipertahakan, bubarkan saja sekolah. Saya setuju dengan pendapat Wagub DKI Basuki Tjahya Purnama. Jika pendidikan selama 3 tahun hanya ditetapkan melalui UN, maka proses sekolah itu tak berguna. Maka bubarkan saja sekolah, biarkan siswa belajar dengan jalannya sendiri-sendiri. Yang terpenting adalah jika ia merasa kemampuannya sudah cukup, ia bisa mengikuti UN dan mendapatkan ijazah dari negara jika lulus. Lebih mudah dan murah tentunya.


Bukan saya dan  Wagub DKI Basuki Tjahya Purnama saja yang tidak setuju dengan keberadaan un tetapi jokowi gubernur dki juga mendukung pendapat saya bisa kita lihat di bawah ini yang saya copy dari  Metrotvnews.com,       
Metrotvnews.com, Jakarta: Pelajar Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 6 dan SMAN 70 Jakarta dalam dialog dengan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) mengeluhkan kenapa masih ada ujian nasional (UN).
"Kenapa mesti UN syarat kelulusan? Masa muda kami ditentukan oleh empat hari saja?" Ujar salah satu pelajar, Cantika, di GOR Bulungan, Kamis (18/4).
Menanggapi curhat pelajar itu, Jokowi mengaku setuju UN dihapuskan. UN, lanjutnya, seharusnya bukan menjadi alat ukur kelulusan.
"Saya secara pribadi enggak setuju UN. Kalau itu memang dilakukan, harusnya untuk mengecek tingkat kemampuan provinsi. Yang perlu disuntik sebelah mana. Bukan untuk standar kelulusan, hanya standar kualitas provinsi," kata Jokowi.
Menurut dia, kelulusan tidak dapat ditentukan dalam empat hari. Sebab, selama ini pelajar SMA dan sederajat telah belajar selama tiga tahun.
"Kadang-kadang pas sakit, tidak segar, sepintar apapun kalau ditentukan empat hari ya gak maksimal," kata mantan Wali Kota Surakarta tersebut.
Setelah membaca artikel diatas penulis sangat berharap sekali agar UN di hapuskan karena UN itu momok yang sangat menakutkan bagi seluruh siwa. Apalagi pada tahun ini UN diadakan 20 paket itu sangat menakutkan sekali, selain paket un yang begitu banyak, bayak kejanggalan yang datang. Seperti lembaran jawaban yang tidak lengkap, basah karena banjir,LJK yang lambat datang, mungkin banyak kejanggalan yang lain, tapi hanya itu yang penulis ketahui. Terkurang dan terlebih penulis minta maaf.. akhir kata penulis ucapkan terimakasih
Assalamual;aikum wr.wb


0 komentar:

Poskan Komentar